Kekasih, Kasihanilah Kami

Ketika kita sedang menghadapi kesusahan dan cobaan, mungkin tidak sadar kita kemudian mengumpat, mengeluh, dan marah kepada Allah. Padahal kita merasa sudah melakukan ibadah dengan baik. Kita merasa telah taat dan melaksanakan perintah-Nya. Dan kemudian kita bertanya mengapa cobaan tetap datang?

Sebaliknya, ketika kita melihat orang lain dirundung kesulitan dan cobaan, kerap kita dengan lancang mencap itu adalah azab dan hukuman dari Allah yang layak orang itu terima. Seolah kita punya hak untuk menjadi juru bicara-Nya.

Yang lebih miris adalah yang belakangan ini kerap terjadi, akibat konstelasi politik, beberapa oknum berani mendoakan orang lain yang tidak sepaham dengannya agar mendapat kesulitan dan azab dari Allah, seolah dia berhak mewakili kehendak-Nya. Naudzubilahiminzalik!

Yang mungkin kita tidak tahu adalah, bahkan para Nabi dahulu juga menghadapi cobaan yang begitu berat dari Allah. Bahkan mereka umat pilihan yang dianggap kekasih Allah itu juga tidak luput dari cobaan-Nya. Azab atau bukan, bukti cinta Allah atau bukan, sesungguhnya semua itu adalah rahasia Allah. Janganlah kita sombong dan tinggi hati ketika kita sedang di atas, pun juga jangan marah dan berkecil hati ketika kita sedang susah. 

Semoga tulisan dari Gus Nadir, salah satu tokoh muda pemikis islam Indonesia dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) ini bisa menjadi renungan kita bersama.

Kamu pikir menjadi kekasihNya itu mudah? Yusuf alaihis salam tidak cukup hanya dimasukkan ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri, beliau juga difitnah dan masuk penjara bertahun-tahun hingga semua melupakannya

Kamu pikir menjadi kekasihNya itu tak akan berdarah-darah? Yahya alaihis salam dipenggal kepalanya demi mempertahankan fatwanya

Kamu sangka para kekasihNya setiap berdoa langsung terkabul? Zakaria alaihis salam tiap saat berdoa minta dikaruniai keturunan namun hanya dikabulkan saat sudah sepuh

Kamu mungkin menduga kekasihNya itu terus menerus mendapat pujianNya? Dawud alaihis salam ditegur Allah karena membuat keputusan yang terburu-buru

Kamu pikir kekasihNya selalu hidup enak? Mungkin kamu perlu sesekali merasakan hidup di dalam perut ikan seperti Yunus alaihis salam

Kamu masih juga berpikir kekasihNya itu selalu menang tanpa perlu berjuang? Musa alaihis salam harus berlari kepayahan dikejar-kejar Firaun sebelum laut terbelah untuknya

Kamu kira menjadi kekasihNya itu pasti didukung sepenuhnya oleh keluargamu? istri dan anak Nuh alaihis salam pun menolak dan mencemoohnya

Kamu sangka sebagai kekasihNya semua orang akan berkorban untuk dirimu? Ismail alaihis salam harus terlebih dahulu “mengorbankan dirinya”

Dan kamu sangka Nabi Muhammad tidak guncang hidupnya? Istrinya dituduh berzina, beliau dicaci-maki, diracun, disantet, dilempari batu, dikejar, bersembunyi di gua, mau dibunuh, dikhianati orang munafik, kalah perang, ditinggalkan keluarganya, dituduh tidak adil oleh sebagian sahabat dan juga sebagian istrinya, menahan lapar dengan mengikat batu di perutnya, anak lelakinya wafat saat balita, dan seterusnya…..

Lalu kamu merasa sebagai kekasihNya dan berharap hidupmu akan mulus saja? Begitukah?

Ya Rahman, irham dha’fana ?
Muhammadkan kami
Dalam seteguk anggur cintaMu

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Related Posts

About The Author