Hukum bercerai dalam Islam Al-Qur’an melindungi hak dan martabat wanita

Hukum bercerai dalam Islam Al-Qur’an melindungi hak dan martabat wanita

Membentuk keluarga yang sakinah mawah warhmah adalah cita-cita seorang yang menikah, benturan-benturan dan gelombang kehidupan berumah tangga yang terjadi pada suatu rumah tangga ada yang kuat menghadapi tetapi ada juga tidak kuat atau tidak siap menghadapinya. Dalam penyelesaiannya ada yang memilih bertahan da menyelesaikannya tetapi ada yang menyerah dengan memilih jalan penyelesaiannya dengan bercerai. Memang agama Islam memperbolehkan adanya perceraian akan tetapi Allah sangat membenci perceraian. Hukum bercerai dalam Islam terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat ayat 227 hingga ayat 232, Islam mengatur semua kehidupan penghidupan umatNya mulai dari akan menikah hingga terjadinya perceraian.

Hukum bercerai dalam Islam yang mengatur masa iddah seorang wanita yang baru tinggal meninggal sebagaimana firman Allah yang artinya : “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah : 234). Sebelum masa iddah berakhir wanita yang ditinggal suaminya, seorang wanita tidak boleh dipinang ataupun dilamar, wanita tersebut harus menahan diri untuk tidak berhubungan dengan laki-laki dikala suami baru saja meninggal. Dalam masa Iddah tersebut wanita dapat berkonsentrasi mengurus anak serta keperluan dirinya, dengan memenahan diri akan menjauhkan diri perguncingan masyarakat serta juga menimbulkan fitnah terhadap dirinya. Islam sangat menghargai akat dan martabat seorang wanita.
Hukum bercerai dalam Islam tentang wanita yang diceraikan tercantum dalam Al-Qur’an yang artinya : ” Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang taqwa. (QS.Al-Baqarah :241). Dalam ayat ini diterangkan bagaimana hak istri yang diceraikan suami, dimana suami yang menceraikan memberikan sesuatu sebagai penghibur bagi wanita yang diceraikannya, dan suami memberi mut’ah kepada istrinya sebelum ditalak. Penafkahan oleh seorang suami sebelum menceraikan istrinya agar istrinya yang diceraikan tidak bersedih dan dapat menghidupi anak-anak mereka kelak. Wanita dalam masa iddah dilarang untuk banyak berkomunikasi terhadap lawan jenis agar tidak terjadi perguncingan dan fitnah.

Related Posts

About The Author