Benarkah Habib Prof Quraish Shihab Pengikut Syi’ah?

Sudah bukan rahasia umum jika selama bertahun-tahun Prof. Quraish Shihab mendapat tudingan sebagai pengikut aliran Syiah. Sebagian umat bahkan sudah menjauhi dan curiga dengan ajaran-ajaran beliau. Namun selama bertahun-tahun itu pula beliau dengan segala kerendahan hatinya tidak pernah memberikan perlawanan. Lalu, apakah benar beliau pengikut aliran Syiah?

Tulisan dari Nadirsyah Hosen ini adalah salah satu usaha Tabayyun mengenai kebenaran tudingan Syiah itu. Ulama sejatinya adalah ilmuwan yang melakukan penelitian akan luasnya ilmu pengetahuan. Dengan segala kerendahan hatinya, Prof. Quraish Shihab mempelajari bermacam-macam kitab tafsir dari berbagai aliran, baik aliran yang keras dan konservatif, sampai aliran yang selama ini dianggap melenceng, kemudian mengintisarikan dan merangkumnya dalam kitab tafsir 12 jilid Al-Misbah. Namun tingginya ilmu beliau justru banyak ditangkap secara salah kaprah oleh umat.

Mari tabayyun dan berusaha cari tahu kebenarannya, jangan sampai kita terjerumus ke dalam perbuatan fitnah dan menjauhi ulama. Jika kepada sesama teman saja kita dianjurkan untuk tabayyun, apalagi ini kepada ulama. Walahualam bishawab.

Salah satu alasan Habib Prof Quraish Shihab dituduh beraliran Syi’ah adalah karena dalam kitab tafsir karyanya, yaitu al-Misbah (15 jilid) beliau sering merujuk kepada Tafsir al-Mizan karya Muhammad Hussein Thabathaba’i. Bagaimana ceritanya?

Di lemari buku almarhum Abah saya (Prof KH Ibrahim Hosen) ada satu set komplit (21 jilid) Tafsir al-Mizan. Sekitar tahun 1990 Abah saya berdecak kagum membaca ulasan dari kitab tafsir ini. Saat itu saya tanyakan kepada Abah kenapa membeli tafsir milik ulama Syi’ah. Abah menjawab, “Ini kitab tafsir bagus, Habib Quraish yang merokemendasikan dan ternyata beliau benar, isinya luar biasa”. Saya bertanya, “kalau begitu saya juga boleh membacanya?” Abah mengangguk.

Jadi kekaguman Habib Prof Quraish Shihab terhadap karya Thabathaba’i itu sudah sejak dulu. Itu sebabnya kitab tafsir al-Misbah banyak mengutip Tafsir al-Mizan. Tapi apakah fakta ini menjadikan Habib Prof Quraish seorang syi’ah? Saya berpendapat, “Tidak!”

Pertama, merupakan hal wajar seorang Profesor seperti Quraish Shihab dan juga Abah saya membaca kitab lintas mazhab. Di lemari buku Abah saya juga terdapat Tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari yang beraliran Mu’tazilah. Juga ada kitab Nailul Authar karya Syaukani yang berasal dari tradisi Syi’ah Zaidiyah dan kabarnya kemudian beralih ke mazhab Zahiri. Karya Syaukani lainnya yang saya temukan di perpustakaan Abah saya adalah kitab Irsyadul Fuhul yang mengupas Ushul al-Fiqh. Jadi, para guru besar itu memang membaca dan mengoleksi literatur dalam berbagai mazhab. Kalau gak gitu, ya bukan guru besar dong 🙂

Kedua, keliru besar kalau dikatakan Tafsir al-Misbah hanya merujuk pada Tafsir al-Mizan. Kalau kita baca dengan seksama, Habib Prof Quraish itu sangat mengagumi al-Biqa’i yang menulis kitab tafsir Nazm al-Durar. Karya al-Biqa’i ini menjadi bahan kajian disertasi Habib Prof Quraish Shihab di al-Azhar Cairo. Selain al-Biqa’i dan Thabathaba’i, beliau juga merujuk kepada Tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayid Quthb dan al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Asyur. Jadi, paling tidak ada 4 kitab tafsir utama yang dirujuk oleh Tafsir al-Misbahnya Habib Prof Quraish Shihab: Thabathaba’i yang beraliran Syi’ah Imamiyah, al-Biqa’i yang bermazhab Syafi’i, Sayid Quthb ulama konservatif dari Ikhwanul Muslimin, dan Ibn Asyur ulama progresif bermazhab Maliki.

Selain keempat kitab tafsir utama di atas, Habib Prof Quraish Shihab juga merujuk kepada kitab tafsir lainnya semisal Tafsir al-Wasith karya Sayid Thantawi (mantan Grand Syekh al-Azhar) dan juga kitab tafsir klasik semisal Tafsir al-Qurtubi. Dengan kata lain, Tafsir al-Misbah tidak hanya merujuk kepada tafsir syi’ah karya Thabathaba’i tapi juga kitab tafsir lainnya termasuk tafsir konservatif milik Sayid Quthb. Tentu menakjubkan karya tokoh syi’ah-sunni, progresif dan konservatif, klasik-modern semuanya diakomodir dalam Tafsir al-Misbah. Ini menunjukkan pendekatan beliau yang luas dan luwes.

Ketiga, meskipun beliau mengutip Tafsir al-Mizan karya ulama Syi’ah, namun dalam beberapa pembahasan Habib Prof Quraish Shihab terang-terangan menunjukkan perbedaan pandangan beliau dengan Thabathaba’i. Ini sikap ilmiah beliau. Misalnya yang paling jelas dalam Surat ‘Abasa. Sejak lama ulama Sunni berbeda pandangan dengan ulama Syi’ah mengenai apakah Nabi Muhammad yang mendapat teguran Allah dalam surat tersebut atau orang lain. Setelah menguraikan pandangan Thabathaba’i, beliau menulis: “Hanya saja, alasan-alasan yang dikemukakannya tidak sepenuhnya tepat”. Dengan kata lain, Habib Prof Quraish Shihab berpandangan sama dengan ulama Sunni dalam surat ‘Abasa ini. Ini bukti yang teramat jelas bahwa beliau bukan seorang Syi’ah.

Perbedaan pandangan lainnya bisa terlihat saat membahas surat al-Hujurat ayat 12. Thabathaba’i menganggap larangan ghibah di ayat ini hanya berlaku jika yang digunjing itu seorang muslim sebagaimana diisyaratkan oleh kata “akh/saudara” dalam ayat ini. Dengan merujuk pada QS al-Taubah : 9 yang menegaskan persaudaran seagama itu menggunakan redaksi “ikhwanukum fid din” Habib Prof Quraish Shihab tidak menyetujui pendapat Thabathaba’i di atas. Dengan demikian beliau berpendapat kata “akh/saudara” dalam al-Hujurat:12 tidak hanya berlaku untuk sesama Muslim. Ini contoh bagaimana Tafsir al-Misbah berbeda pandangan dengan Tafsir al-Mizan. Dalam dunia ilmiah, hal ini wajar saja.

Dari ketiga point di atas terbantahlah mereka yang menganggap Habib Prof Quraish Shihab sebagai syi’ah dikarenakan beliau merujuk kepada Tafsir al-Mizan ulama syi’ah. Semoga ini bisa meluruskan fitnah keji yang terus menerus diedarkan oleh sementara pihak terhadap beliau. Semoga beliau selalu dikaruniai kesehatan dan dijaga oleh Allah dalam membina umat lewat keteladanan, kesantunan dan kedalaman ilmu beliau.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Related Posts

About The Author

Add Comment