Bagaimana Hukum Yasinan Malam Jumat?

Bagaimana Hukum Yasinan Malam Jumat?


Masuknya agama Islam ke Indonesia adalah karena jasa para ulama yang alim terutama dalam hal ilmu agama, yang bahkan bisa kita yakin kealiman para beliau tersebut melebihi kealiman otang sekarang. Para ulama ini kemudian melakukan inovasi serta melestarikan tradisi Islam yang bahkan berlangsung hingga sekarang seperti yasinan di malam Jumat. Dan karena umat Islam di Indonesia sendiri tidak pernah menanyakan dalil mengenai tradisi tersebut, tidak heran jika kemudian para ulama jarang menjelaskannya. Namun, setelah munculnya fitnah dari kaum Wahabi yang masuk ke tanah air ini, mulai muncul tuduhan dan gugatan terhadap tradisi yang selama ini telah dijalankan oleh masyarakat kita hanya dengan alasan tidak ada dalilnya. Kaum Wahabi bahkan tidak meluputkan acara yasinan di malam jumat sebagai bagian dari tuduhan bidah tersebut, sehingga kemudian banyak juga masyarakat terutama yang masih awam terhadap agama Islam mulai mempertanyakan bagaimanakah hukum yasinan malam jumat sebenarnya?

Nah, untuk bisa menjawab rasa penasaran mengenai hukum yasinan malam jumat seperti itu, mari coba tengok dalil yang menjelaskan tentang diperbolehkannya menetapkan waktu tertentu untuk melaksanakan kebaikan antara lain:
a. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma yang artinya adalah “Ibu Umar radliyallahu’anhum berkata, Nabi SAW selalu mendatangi masjid Quba’ setiap hari sabtu dengan berjalan kaki dan berkendaraan. Abdullah bin Umar ra juga selalu melakukannya (HR. Bukhari).
b. Dari Atsar Sayyidah Fathimah rah yang artinya adalah “Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin berkata, fathimah putri Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf). Sedangkan hadits lainnya adalah :Al husain bin Ali berkata, Fathimah putri Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzat, setiap hari Jumat lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya (HR. Al Hakim)
c. Dari Ibnu Abbas radliyallahu’anhuma yang artinya adalah sampaikanlah hadits kepada manusia setiap hari Jum’at, jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali dalam sepekan, jika masih kurang banyak, maka tiga kali dalam sepekan, jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada Al Qur’an ini (HR. Bukhori)
Dari ketiga dalil di atas sudah jelas kiranya bahwa menetapkan hari-hari tertentu dengan kebaikan sudah berlangsung sejak masa para sahabat dulu, sehingga dengan demikian, masihkah perlu dipertanyakan hukum yasinan malam jumat? Wallahu a’lam bish showab.

Related Posts

About The Author