Antara Petunjuk dan Hawa Nafsu

Apakah kita termasuk orang yang mendapat petunjuk?

Pernahkah kita merasa diri yang paling benar dibanding orang lain? Hati-hati, jangan-jangan kita sudah masuk ke perilaku sombong.

Di media sosial akhir-akhir ini cukup banyak orang yang merasa dirinya paling benar, dan karena itu seolah berhak untuk mencaci maki orang lain yang tidak sepaham atau sependapat. Bahkan tidak sedikit yang kemudian mencibir keimanan orang lain, bahkan mencela dengan kata kafir, munafik, dan sejenisnya. Naudzubilahi minzalik.

Mari kita introspeksi diri. Simak dan renungkan tulisan dari Gus Nadir berikut ini. Berusahalah selalu rendah hati dan mencari petunjuk-Nya. Ketika kita merasa tahu pun sesungguhnya kita berada pada ketidaktahuan, karena hanya Allah Yang Maha Tahu segalanya. Walahualam bishawab.

Mencari petunjuk untuk jalan yang lurus (shirattal mustaqim) bisa ditempuh dengan 3 (tiga) cara.

Pertama, mengikuti hukum tertulis yang digariskan syariah; kedua, membersihkan hati melalui istiqamahnya amalan harian agar hati selalu mendapat petunjuk yang benar; dan ketiga, melalui perantara orang-orang saleh yang telah dibukakan kunci-kunci rahasia ilahi.

Lawan dari petunjuk yang lurus itu adalah hawa nafsu. Allah mengingatkan kita:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran” (QS 45:23)

“Pak Kiai, saya ingin tahu maqam saya di hadapan Allah?”

Pak Kiai menjawab pelan, “Sungguh saya tidak tahu, saya hanya bisa menyebutkan tanda-tandanya saja. Kalau ibadah dan riyadhah yang antum lakukan itu semakin membuat antum merasa begitu hina dan kotor, maka jarak antum kepada Allah semakin dekat. Sebaliknya, semakin antum merasa suci dan bersih, jangan-jangan ibadah yang antum lakukan itu malah membuat Allah menjauhi dirimu”.

Lewat kisah iblis, kita belajar bagaimana kesombongan—merasa lebih dari yang lain—itu menghancurkan segalanya. Dari kisah Adam-Hawa, kita belajar bagaimana keserakahan—nafsu ingin segalanya—seolah tak pernah cukup, justru berakibat merusak kebahagian hidup. Dari kisah Habil-Qabil, kita juga belajar bagaimana kedengkian itu malah mencelakakan hidup kita.

Tidakkah tiga pelajaran kisah tersebut cukup untuk bekal kita di dunia ini. Kesombongan, keserakahan dan kedengkian. Lalu, tengoklah diri kita dan bercerminlah.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Related Posts

About The Author